Ada pepatah bagaikan buah simalakama yang berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) diartikan sebagai seseorang dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit untuk dipilih.
Menggunakan pepatah tersebut, ada sebutan bagi bisnis yang juga menghadapi dua pilihan yang sangat sulit untuk dipilih, yaitu bisnis simalakama!
Apa itu bisnis simalakama?
Bisnis simalakama adalah bisnis yang dijalankan ataupun tidak dijalankan, membawa kesulitan bagi pemilik bisnis. Contoh: jika dijalankan tidak menghasilkan arus kas positif, namun jika tidak dijalankan, ada kewajiban yang harus dipenuhi namun tidak dapat dipenuhi karena bisnis tidak menghasilkan arus kas positif.
Hidup segan, matipun tak mau.
Bisnis simalakama!
Mengapa bisnis simalakama dapat terjadi?
1. Tidak terjadi atau minim inovasi
Inovasi itu darah segar bagi perusahaan. Terutama di era digital saat ini, bukan lagi hanya darah segar (pembaruan), tetapi juga menjadi kebutuhan (necessity) untuk senantiasa mampu berkompetisi.
Inovasi tidak harus terjadi pada mesin - mesin manufaktur. Tapi juga pada hal - hal bersifat kualitatif seperti budaya perusahaan atau sistem manajemen perusahaan.
Bagaimana jika perusahaan tidak memiliki arus kas yang positif untuk melakukan inovasi?
Itu berarti bisnis anda tidak efisien! Lakukan inovasi pada efisiensi perusahaan. Sekali lagi, efisiensi tidak harus terjadi pada hal - hal bersifat kuantitatif, namun juga yang bersifat kualitatif. Target: jadikan arus kas bisnis anda positif untuk mampu melakukan inovasi di aspek kuantitatif.
2. Tidak terjadi pengalihan ke generasi berikut
Hal ini menjadi penting ketika founder adalah orang tua dan tidak mewariskan "keahlian" bisnisnya kepada anak - anaknya. Kondisi ini bisa terjadi karena perbedaan generasi, yaitu perbedaan pola pikir, ataupun minat antara orang tua dan anak.
Penting untuk diingat:
* Ketika orangtua membangun bisnis, mereka memiliki visi kearah mana bisnis ini ingin dibawa. Visi tersebut harus dijelaskan kepada anak - anak untuk mereka dapat memahami. Jika suatu saat terjadi kehilangan mendadak pada sosok founder, maka anak - anak telah siap membawa bisnis orangtua sesuai dengan visi, meskipun mereka tidak melanjutkan bisnisnya. Apa artinya? Karena ada potensi minat anak tidak sama dengan minat orangtua, maka anak dapat exit dari bisnis dengan mencari pembeli yang dapat melanjutkan visi bisnis orangtua mereka. Don't let the business dies! Jangan sampai menjadi bisnis simalakama!
* Untuk dapat berkomunikasi bisnis antara orangtua dengan anak, sebaiknya orangtua tidak bersifat dominan, yaitu this is my way and the only way! Anak - anak juga sebaiknya mengurangi sifat idealis mereka. Tenggang rasa, toleransi dan pengertian adalah kata kunci untuk dapat saling memahami satu sama lain antara orangtua dan anak.
3. Jangan ekspansi agresif, overly leverage tanpa perencanaan tertulis.
Maksudnya adalah jika anda ingin ekspansi bisnis, boleh menggunakan leverage, tapi jangan overly leverage, dan tanpa perencanaan tertulis. Untuk mengetahui suatu rencana ekspansi viable atau tidak, diperlukan business plan, yang dapat mengetahui viability dan sustainability dari suatu bisnis. Ada suatu kondisi, ketika anda terlalu agresif untuk ekspansi dan overly leverage, you jeopardize your business health (i.e. cash flow). Terutama jika anda ekspansi untuk hal - hal yang bersifat tidak likuid yang akan sulit untuk dijual jika anda memerlukan suntikan dana modal kerja. Contoh: pembelian tanah atau gudang.
All-in-all, be wise.
Focus on your vision.
Think long - term.
Think cash flow.
Think employees and always retain key people.
|SY|